The Lovely Bones

20 04 2010

The Lovely Bones : Berjuang Menghadapi Kehilangan Terbesar

Lovely-Bones-Poster

Lovely-Bones-Poster

Ingatkah Anda dengan Peter Jackson? Sutradara jenius yang sukses memenangkan banyak penghargaan karena karya-karya besarnya, seperti King Kong (2005) dan Lord of The Ring Trilogy (2001, 2002, 2003)? Kali ini, dia kembali dengan sebuah film yang sangat berbeda dengan karya-karya sebelumnya, sebuah film drama, The Lovely Bones.

The Lovely Bones memang bukan hasil karya Jackson sendiri. Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama karangan Alice Sebold. Di Amerika sendiri, novel ini menjadi best seller karena cara penceritaan dan pengisahannya yang unik. Namun, bukan berarti Jackson tidak bisa menyalurkan ide-ide briliannya di film yang sudah memiliki kerangka cerita ini. Justru, tantangan terbesar Jackson adalah memvisualisasikan seluruh imajinasi yang dituangkan Sebold dalam novel tersebut.

Mari kita tengok sejenak mahakarya Jackson dalam Lord of the Ring Trilogy. Ia dengan piawai dapat menggambarkan imajinasi J.R.R. Tolkien yang begitu megah dan detail ke dalam bentuk visual. Kita, sebagai penikmat film, akhirnya dapat menyaksikan secara nyata penggambaran kaum Elf, hobbit, dan keindahan dunia imajinasi Tolkien lainnya. Kali ini, Jackson mendapatkan tantangan baru untuk merealisasikan dunia imajinasi Sebold.

THE LOVELY BONES (3)

The Lovely Bones memang hanya film drama biasa, tentang perjuangan sebuah keluarga untuk bertahan di tengah kesedihan mendalam akibat kehilangan salah satu anggota keluarga mereka. Kesedihan mendalam mereka membuat mereka belum bisa menerima kehilangan walau waktu terus berjalan. Keluarga Salmon menghadapi saat-saat terberat akibat kehilangan Susie Salmon (Saoirse Ronan). Di “imbetween world”, Susie Salmon pun belum rela sepenuhnya untuk lepas dari keluarga tercintanya. Orangtua Susie, Jack (Mark Wahlberg) dan Abigail (Rachel Weisz), adalah sosok yang paling terpukul. Bahkan, Jack tak pernah menyerah untuk mencari pembunuh anak sulungnya tersebut. Ini membuatnya menjadi jauh dari seluruh anggota keluarga lainnya dan membuat Abigail memutuskan untuk meninggalkan rumah untuk menenangkan pikiran.

Sekali lagi, ini adalah film drama yang lebih menekankan pada hubungan emosional dalam sebuah keluarga. Maka, di awal film ini, Anda akan langsung mengetahui duduk permasalahannya, seorang anak remaja diperkosa dan dibunuh oleh tetangganya sendiri, pria paruh baya bernama Mr. Harvey (Stanley Tucci). Film ini tampak sangat menarik karena sudut penceritaan yang sangat berbeda dengan film-film drama sebelumnya: dinarasikan dari sudut pandang Susie Salmon setelah ia meninggal. Dari “imbetween world”, Susie mengawasi perjalanan hidup keluarganya—juga Mr. Harvey yang dapat hidup tenang tanpa dicurigai siapa pun. Dengan sekuat tenaga, Susie berusaha memberitahukan keluarganya bahwa ia masih ada di sekitar mereka. Ia akan terus mengawasi keluarganya sampai hidup mereka kembali normal dan Susie pun bisa merelakan kehidupannya di dunia dan menerima kehidupan barunya di alam lain.

THE LOVELY BONES (14)

Imajinasi Tak terbatas

Tantangan yang sering dihadapi sutradara saat mengerjakan film adaptasi dari buku adalah saat mereka harus menyampaikan pesan yang diimajinasikan penulis buku tersebut ke dalam bentuk “gambar bergerak”. Alice Sebold memiliki cara yang sangat khas untuk menggambarkan perasaan Susie Salmon di alam “antara dua dunia”. “The imbetween world” digambarkan sebagai tempat yang sangat luas dan tak terbatas. Dunia tersebut dapat berubah dalam sekejap, sesuai suasana hati Susie Salmon. Dalam bahasa tulis, Sebold dapat menyampaikannya dengan sangat piawai: penuh metafor dan sangat surealis. Namun, bagaimana dengan dunia visual yang diciptakan Peter Jackson? Hasilnya: memukau. Di film ini, Jackson membuktikan bahwa dia tidak hanya piawai menggarap film kolosal dengan ribuan karakter di dunia imajinasi Tolkien, tapi dia juga sukses menuangkan imajinasi tersulit yang digambarkan Sebold dalam novelnya.

THE LOVELY BONES (5)

Jika Anda sedikit bingung dengan permainan imajinasi di film ini, itu mungkin karena kekuatan Sebold dalam menggambarkan dunia dan perasaan Susie Salmon. Film ini memang memerlukan sedikit pemahaman lebih mendalam dibanding film-film drama lainnya. Film ini menyajikan suasana baru dalam penggambaran film—atau bahkan kisah—bergenre drama. The Lovely Bones adalah film yang memiliki nilai yang cukup dalam, dengan proses pengerjaan yang sangat jenius dan brilian. Enjoy!

Tanggal rilis    : 15 Januari 2010 (USA)
Genre                 : drama/thriller
Durasi               : 139 menit
Sutradara        : Peter Jackson
Pemain             : Saoirse Ronan, Mark Wahlberg, Rachel Weisz, Susan Sarandon, Stanley Tucci, Michael Imperioli
Produksi          : DreamWorks Pictures

Sumber : http://chip.co.id


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: